Menentukan research gap merupakan salah satu tahap penting dalam menyusun penelitian. Namun, banyak mahasiswa dan peneliti pemula masih memahami research gap hanya sebagai topik yang belum pernah diteliti. Padahal, kesenjangan penelitian dapat muncul dari berbagai aspek, mulai dari teori, metode, konteks, populasi hingga temuan penelitian yang belum konsisten.
Berikut tujuh kesalahan yang sering terjadi ketika menentukan research gap.
1. Menganggap Belum Ada Penelitian sebagai Satu-satunya Research Gap
Kesalahan paling umum adalah berusaha mencari topik yang sama sekali belum pernah diteliti.
Research gap tidak harus berarti tidak adanya penelitian sebelumnya. Kesenjangan juga dapat ditemukan ketika suatu persoalan sudah banyak diteliti, tetapi masih terdapat aspek yang belum memperoleh penjelasan memadai.
Misalnya, penelitian mengenai penggunaan teknologi dalam pembelajaran bahasa sudah banyak dilakukan. Namun, penelitian tersebut mungkin lebih banyak membahas hasil belajar, sementara pengaruh teknologi terhadap praktik atau identitas profesional guru masih relatif kurang dieksplorasi.
Dengan demikian, kebaruan penelitian dapat berasal dari perspektif yang digunakan, bukan hanya dari topiknya.
2. Hanya Mengandalkan Satu atau Dua Artikel
Research gap yang kuat tidak sebaiknya dibangun hanya berdasarkan satu atau dua artikel.
Peneliti perlu membaca sejumlah penelitian yang relevan untuk mengetahui kecenderungan penelitian dalam suatu bidang.
Literatur dapat dipetakan berdasarkan fokus penelitian, teori, metode, peserta, konteks, dan temuan utama. Dari pemetaan tersebut, peneliti akan lebih mudah melihat bagian yang sudah banyak diteliti dan bagian yang masih membutuhkan kajian lebih lanjut.
3. Menyamakan Research Gap dengan Perbedaan Lokasi
Mengubah lokasi penelitian tidak otomatis menghasilkan research gap.
Sebagai contoh, penelitian sebelumnya dilakukan di Yogyakarta, sedangkan penelitian baru dilakukan di Bojonegoro. Perbedaan lokasi saja belum cukup untuk menunjukkan adanya kontribusi ilmiah.
Peneliti perlu menjelaskan mengapa konteks tersebut penting.
Apakah terdapat karakteristik peserta yang berbeda? Apakah terdapat kebijakan pendidikan tertentu? Apakah kondisi institusionalnya berbeda? Atau apakah konteks tersebut memungkinkan teori tertentu diuji dalam kondisi yang berbeda?
Lokasi penelitian seharusnya memiliki alasan konseptual, bukan sekadar alasan praktis.
4. Menentukan Gap Sebelum Membaca Literatur
Kesalahan lainnya adalah menentukan research gap terlebih dahulu, kemudian mencari artikel yang mendukung klaim tersebut.
Cara ini berisiko membuat tinjauan literatur menjadi selektif.
Pendekatan yang lebih baik adalah membaca dan memetakan literatur terlebih dahulu. Setelah mengetahui perkembangan penelitian, peneliti dapat mengidentifikasi persoalan yang belum mendapatkan penjelasan secara memadai.
Dengan demikian, research gap muncul berdasarkan bukti dari literatur.
5. Mengabaikan Temuan Penelitian yang Bertentangan
Hasil penelitian yang berbeda atau bahkan bertentangan justru dapat menjadi sumber research gap yang menarik.
Misalnya, beberapa penelitian menemukan bahwa penggunaan kecerdasan buatan dapat meningkatkan keterlibatan mahasiswa. Namun, penelitian lain menunjukkan adanya risiko ketergantungan atau keterlibatan yang dangkal.
Perbedaan tersebut dapat melahirkan pertanyaan penelitian baru.
Mengapa hasil penelitian berbeda? Apakah dipengaruhi kemampuan peserta, jenis tugas, desain pembelajaran, konteks pendidikan, atau cara teknologi digunakan?
Ketidakkonsistenan temuan dapat menjadi dasar penelitian yang kuat apabila dirumuskan secara tepat.
6. Tidak Menghubungkan Gap dengan Pertanyaan Penelitian
Research gap bukan sekadar paragraf yang ditempatkan pada bagian akhir pendahuluan.
Research gap harus berhubungan langsung dengan tujuan dan pertanyaan penelitian.
Alurnya dapat dibuat sederhana:
Apa yang sudah diketahui → Apa yang belum jelas → Mengapa hal tersebut penting → Apa yang akan diteliti.
Jika gap membahas kurangnya pemahaman mengenai pengalaman guru, tetapi pertanyaan penelitian justru berfokus pada hasil belajar siswa, maka terdapat ketidaksinkronan dalam rancangan penelitian.
7. Menggunakan Klaim yang Terlalu Absolut
Peneliti perlu berhati-hati ketika menggunakan pernyataan seperti:
“Belum ada penelitian yang membahas topik ini.”
Klaim tersebut sulit dibuktikan karena peneliti hampir tidak mungkin memastikan bahwa seluruh publikasi yang tersedia telah diperiksa.
Formulasi yang lebih aman antara lain:
“Penelitian mengenai aspek ini masih terbatas.”
“Atensi empiris terhadap persoalan ini relatif sedikit.”
“Literatur yang tersedia lebih banyak berfokus pada X, sementara Y masih kurang dieksplorasi.”
Formulasi tersebut lebih realistis dan sesuai dengan karakter penulisan akademik.
Bagaimana Cara Menemukan Research Gap?
Salah satu cara praktis adalah membuat matriks literatur.
Buat tabel dengan beberapa kolom berikut:
Penulis dan Tahun | Fokus | Teori | Metode | Sampel/Konteks | Temuan | Keterbatasan | Peluang Penelitian
Masukkan artikel-artikel yang relevan ke dalam tabel tersebut.
Setelah itu, jangan langsung mencari topik yang “belum pernah diteliti”. Sebaliknya, perhatikan pola yang muncul.
Cari aspek yang terlalu dominan, kelompok yang kurang diperhatikan, metode yang terus digunakan, teori yang jarang diuji, hasil penelitian yang bertentangan, atau pertanyaan yang belum memperoleh penjelasan memadai.
Dari proses tersebut, research gap akan terlihat lebih jelas.
Penutup
Research gap yang kuat bukan dibuat dengan memaksakan klaim kebaruan. Research gap ditemukan melalui pembacaan literatur yang sistematis dan kemampuan melihat persoalan yang belum memperoleh penjelasan memadai.
Karena itu, ketika mencari research gap, jangan hanya bertanya:
“Apa yang belum pernah diteliti?”
Pertanyaan yang lebih produktif adalah:
“Apa yang belum cukup kita pahami dari penelitian yang sudah ada?”
Perubahan cara berpikir tersebut dapat membantu peneliti bergerak dari sekadar mencari topik menuju penyusunan penelitian yang memiliki kontribusi ilmiah lebih jelas.
