Menerima permintaan revisi dari jurnal merupakan bagian normal dari proses publikasi ilmiah. Keputusan minor revision maupun major revision menunjukkan bahwa editor dan reviewer menemukan bagian tertentu dari manuskrip yang perlu diperjelas, diperkuat, atau diperbaiki sebelum keputusan berikutnya dibuat.
Pada tahap ini, kualitas penelitian saja belum cukup. Penulis juga perlu menunjukkan bahwa setiap komentar reviewer telah dibaca dengan cermat dan ditindaklanjuti secara transparan.
Dokumen response to reviewers berfungsi sebagai penghubung antara komentar reviewer dan perubahan yang dilakukan pada manuskrip. Respons yang terstruktur akan memudahkan reviewer menemukan perubahan dan memahami alasan akademik di balik keputusan penulis.
1. Baca Decision Letter Secara Menyeluruh
Jangan langsung merevisi manuskrip berdasarkan beberapa komentar yang terlihat paling mudah. Baca terlebih dahulu seluruh decision letter, termasuk komentar editor, Reviewer 1, Reviewer 2, dan reviewer tambahan jika ada.
Perhatikan juga instruksi teknis jurnal. Jurnal dapat meminta penulis menggunakan track changes, memberikan warna atau highlight pada revisi, mengunggah clean manuscript, mengunggah marked manuscript, atau menyediakan dokumen tanggapan reviewer secara terpisah.
Instruksi editorial tersebut tetap perlu dipenuhi meskipun tidak berkaitan langsung dengan substansi penelitian.
Setelah membaca seluruh komentar, kelompokkan masalah berdasarkan tingkat kepentingannya agar proses revisi lebih terarah.
2. Bedakan Revisi Substantif dan Teknis
Tidak semua komentar reviewer memiliki bobot yang sama.
Komentar substantif biasanya berkaitan dengan kontribusi penelitian, landasan teori, research gap, desain penelitian, karakteristik partisipan, instrumen, prosedur analisis, interpretasi hasil, keterbatasan penelitian, dan implikasi.
Sementara itu, komentar teknis dapat berkaitan dengan format tabel, konsistensi istilah, kesalahan pengetikan, gaya referensi, atau struktur paragraf.
Pemisahan ini membantu penulis menentukan prioritas. Revisi yang memengaruhi validitas argumentasi, metode, atau interpretasi hasil sebaiknya ditangani terlebih dahulu.
3. Jawab Setiap Komentar Reviewer
Salah satu prinsip terpenting dalam menyusun response to reviewers adalah tidak melewatkan komentar.
Jika reviewer memberikan sepuluh komentar, dokumen tanggapan idealnya menunjukkan respons terhadap kesepuluh komentar tersebut.
Struktur sederhana yang dapat digunakan adalah:
Reviewer Comment
Komentar asli reviewer.
Author Response
Penjelasan mengenai bagaimana penulis menanggapi komentar tersebut.
Revision Made
Perubahan yang dilakukan dan lokasi perubahan dalam manuskrip.
Pola Comment → Response → Revision membuat proses pemeriksaan lebih mudah dibandingkan respons berupa paragraf panjang yang mencampurkan beberapa komentar sekaligus.
4. Mulai Respons Secara Profesional
Respons tidak harus panjang. Kalimat singkat, sopan, dan spesifik biasanya lebih efektif.
Sebagai contoh:
Thank you for this important comment. We have revised the Methods section to clarify the participant selection procedure.
Setelah itu, jelaskan apa yang benar-benar telah diubah.
Hindari jawaban yang hanya berbunyi “Done” atau “Revised as suggested.” Respons seperti ini tidak memberikan informasi yang cukup kepada reviewer mengenai perubahan yang dilakukan.
5. Jelaskan Perubahan Secara Spesifik
Reviewer perlu mengetahui hasil konkret dari komentar yang diberikan.
Misalnya, reviewer menulis:
The participant selection procedure is unclear.
Respons yang terlalu umum adalah:
Thank you. We have revised this section.
Respons yang lebih informatif dapat berbunyi:
Thank you for highlighting this issue. We have expanded the Participants subsection to clarify the inclusion criteria, recruitment procedure, and basis for participant selection.
Jika format jurnal memungkinkan, tambahkan lokasi perubahan, misalnya:
Please see the revised Methods section, page 8, paragraphs 2–3.
Dengan demikian, reviewer tidak perlu mencari perubahan di seluruh manuskrip.
6. Pastikan Response Letter dan Manuskrip Sinkron
Salah satu kesalahan yang perlu dihindari adalah menyatakan bahwa perubahan telah dilakukan padahal perubahan tersebut tidak ditemukan dalam manuskrip.
Misalnya, response letter menyatakan:
We have added information about ethical approval.
Namun informasi tersebut ternyata belum dimasukkan ke bagian Method.
Karena itu, sebelum resubmission, selalu cocokkan:
Komentar Reviewer → Respons Penulis → Perubahan Manuskrip
Ketiganya harus konsisten.
Jika respons menyebut halaman, paragraf, tabel, atau nomor baris tertentu, pastikan lokasi tersebut masih benar pada versi manuskrip yang akan dikirim.
7. Bagaimana Jika Tidak Setuju dengan Reviewer?
Penulis tidak harus menerima seluruh saran reviewer.
Dalam kondisi tertentu, mempertahankan keputusan awal dapat lebih tepat secara metodologis atau teoretis. Namun ketidaksetujuan harus disampaikan melalui argumentasi akademik, bukan secara defensif.
Daripada hanya mengatakan:
We disagree with the reviewer.
respons dapat dibuat lebih konstruktif:
We appreciate this suggestion. However, we have retained the original analytical approach because the study aims to examine within-case developmental patterns rather than estimate population-level effects. We have now clarified this rationale in the Methods section.
Respons seperti ini menunjukkan bahwa komentar reviewer telah dipertimbangkan meskipun penulis memilih tidak mengikuti saran tersebut sepenuhnya.
8. Jangan Menambahkan Data yang Tidak Pernah Dikumpulkan
Tekanan untuk memenuhi permintaan reviewer tidak boleh menyebabkan penulis memberikan informasi atau data yang sebenarnya tidak tersedia.
Jika reviewer meminta analisis berdasarkan data yang tidak dikumpulkan dalam penelitian, jangan menciptakan data baru agar respons terlihat lengkap.
Jelaskan keterbatasannya secara transparan.
Sebagai contoh:
We appreciate this suggestion. These data were not collected as part of the original study; therefore, we are unable to conduct the proposed analysis. We have acknowledged this limitation and clarified its implications in the revised manuscript.
Transparansi metodologis lebih penting daripada membuat respons terlihat sempurna.
9. Tambahkan Referensi Secara Selektif
Ketika reviewer meminta penguatan teori, penulis mungkin perlu menambahkan literatur baru. Namun referensi sebaiknya ditambahkan karena memiliki fungsi akademik yang jelas.
Literatur baru dapat digunakan untuk memperjelas konsep, menunjukkan perkembangan penelitian, memperkuat argumentasi, membandingkan temuan, atau menjelaskan posisi penelitian.
Hindari menambahkan banyak sitasi hanya untuk memperpanjang daftar pustaka.
Setiap referensi baru juga perlu diverifikasi. Periksa kembali nama penulis, tahun, judul, jurnal, volume, halaman, dan DOI berdasarkan sumber aslinya.
10. Pertahankan Klaim Sesuai dengan Data
Reviewer terkadang meminta penulis memperkuat kontribusi atau implikasi penelitian. Permintaan tersebut tidak berarti penulis harus membuat klaim yang melampaui bukti yang tersedia.
Jika penelitian dilakukan pada konteks atau jumlah partisipan tertentu, kesimpulan harus tetap mempertimbangkan batas tersebut.
Bahasa seperti:
These findings prove that...
dapat terlalu kuat untuk banyak desain penelitian.
Formulasi yang lebih proporsional dapat berupa:
The findings suggest that...
atau:
Within the context of this study, the findings indicate that...
Revisi seharusnya meningkatkan kekuatan manuskrip tanpa mengorbankan kehati-hatian interpretasi.
11. Periksa Kembali Tabel, Gambar, dan Angka
Perubahan pada satu bagian manuskrip dapat menimbulkan inkonsistensi pada bagian lain.
Misalnya, jumlah partisipan diperbaiki pada Method tetapi tabel karakteristik peserta masih menggunakan angka lama. Hasil analisis diperbarui, tetapi Abstract belum disesuaikan.
Karena itu, setelah menyelesaikan revisi, periksa kembali Abstract, Method, Results, tabel, gambar, Discussion, Conclusion, supplementary materials, dan response letter.
Angka, istilah, dan informasi utama harus konsisten di seluruh dokumen.
12. Gunakan Tabel Jika Komentar Reviewer Banyak
Untuk revisi yang memiliki banyak komentar, format tabel dapat membantu penulis mengorganisasi respons.
Contoh struktur:
| Reviewer Comment | Author Response | Revision |
|---|---|---|
| Clarify participant selection. | We clarified the recruitment procedure and inclusion criteria. | Methods, Participants |
| Strengthen theoretical contribution. | We expanded the interpretation of the findings in relation to the theoretical framework. | Discussion |
Format ini memungkinkan editor dan reviewer melihat hubungan antara komentar, tanggapan, dan perubahan secara cepat.
Namun, selalu periksa petunjuk jurnal karena beberapa jurnal lebih menyukai format komentar dan respons secara berurutan daripada tabel.
13. Gunakan Reviewer Response Builder
Jika komentar reviewer cukup banyak, mengorganisasi setiap komentar secara manual dapat menjadi pekerjaan yang melelahkan.
Untuk membantu proses tersebut, tersedia Reviewer Response Builder pada menu Research Tools.
Tool ini membantu menyusun tanggapan menggunakan pola:
Comment → Response → Revision
Penulis dapat memasukkan komentar reviewer, menyusun respons, dan mencatat perubahan yang telah dilakukan pada manuskrip sehingga proses pengecekan menjadi lebih sistematis.
Namun, tool tersebut merupakan alat bantu, bukan pengganti keputusan akademik penulis.
Setiap respons tetap harus diperiksa berdasarkan komentar asli reviewer dan perubahan yang benar-benar terdapat dalam manuskrip. Jangan menyatakan bahwa suatu revisi telah dilakukan jika perubahan tersebut belum ada dalam naskah.
14. Checklist Sebelum Resubmission
Sebelum menekan tombol Submit Revision, lakukan pemeriksaan akhir.
Pastikan:
seluruh komentar reviewer sudah dijawab;
setiap perubahan yang diklaim benar-benar terdapat dalam manuskrip;
nomor halaman atau baris yang disebutkan sudah benar;
tidak ada respons sementara yang belum diselesaikan;
referensi baru telah dimasukkan ke daftar pustaka;
angka dalam teks, tabel, dan gambar konsisten;
identitas penulis tidak muncul pada file anonim jika jurnal menerapkan double-anonymized review;
clean manuscript dan marked manuscript tidak tertukar;
bahasa respons tetap profesional;
semua file yang diwajibkan jurnal telah diunggah.
Pemeriksaan akhir sederhana ini dapat mencegah manuskrip dikembalikan karena masalah administratif atau ketidaksesuaian antara respons dan revisi.
Kesimpulan
Menjawab reviewer bukan sekadar menunjukkan bahwa penulis telah melakukan revisi. Tujuan utamanya adalah memperlihatkan secara transparan bagaimana setiap masukan dipertimbangkan dan bagaimana manuskrip berkembang setelah proses evaluasi.
Respons yang baik setidaknya memiliki tiga karakteristik: lengkap, spesifik, dan dapat diverifikasi pada manuskrip.
Penulis tidak harus menyetujui setiap komentar. Namun setiap keputusan—baik menerima, memodifikasi, maupun tidak mengikuti suatu saran—sebaiknya dijelaskan menggunakan alasan akademik yang memadai.
Dengan pendekatan tersebut, response to reviewers tidak lagi sekadar menjadi dokumen administratif, tetapi menjadi bagian penting dari komunikasi ilmiah antara penulis, reviewer, dan editor.
