Pendahuluan
Conclusion sering menjadi bagian terakhir yang ditulis dalam artikel ilmiah. Karena berada di bagian akhir, penulis terkadang menganggapnya cukup dengan mengambil beberapa kalimat dari Results dan Discussion, kemudian meringkasnya dalam satu atau dua paragraf.
Akibatnya, Conclusion sering berbentuk:
“Penelitian ini menemukan bahwa....”
kemudian:
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa....”
dan ditutup:
“Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian ini.”
Secara struktur, tulisan tersebut memang terlihat seperti kesimpulan. Namun, belum tentu menunjukkan apa yang sebenarnya dapat disimpulkan dari keseluruhan penelitian.
Conclusion yang baik seharusnya membawa pembaca kembali pada persoalan yang sejak awal ingin dijawab penelitian.
Pertanyaan utamanya bukan:
“Apa saja hasil penelitian saya?”
melainkan:
“Setelah seluruh penelitian ini dilakukan, apa yang sekarang dapat kita simpulkan dan mengapa hal tersebut penting?”
Karena itu, Conclusion bukan sekadar bagian penutup. Ia merupakan tempat untuk menegaskan jawaban penelitian, kontribusi, dan makna akhirnya.
1. Apa Fungsi Conclusion?
Conclusion berfungsi memberikan penutupan intelektual terhadap artikel.
Bagian ini membantu pembaca memahami:
- apa jawaban utama penelitian;
- apa temuan yang paling penting;
- apa kontribusi penelitian;
- apa implikasi yang dapat ditarik; dan
- sampai di mana kesimpulan tersebut dapat diterapkan.
Dengan demikian, Conclusion seharusnya menghubungkan kembali:
Problem → Research Question → Findings → Contribution
Pembaca yang selesai membaca Conclusion seharusnya memahami mengapa penelitian tersebut layak dilakukan dan apa yang diberikan penelitian terhadap pengetahuan yang sudah ada.
2. Apa Perbedaan Results, Discussion, dan Conclusion?
Ketiga bagian ini sering tumpang tindih.
Cara sederhana membedakannya adalah dengan melihat pertanyaan yang dijawab.
Results
Menjawab:
Apa yang ditemukan?
Misalnya:
Peserta semakin sering mengevaluasi dan mempertanyakan feedback AI pada sesi berikutnya.
Discussion
Menjawab:
Apa arti temuan tersebut?
Misalnya:
Pola tersebut dapat menunjukkan perubahan dari penggunaan AI sebagai sumber koreksi menuju keterlibatan yang lebih evaluatif.
Conclusion
Menjawab:
Apa yang dapat disimpulkan dari keseluruhan temuan tersebut dan mengapa penting?
Misalnya:
AI-supported revision tidak hanya berkaitan dengan akses terhadap feedback, tetapi juga dengan bagaimana pembelajar belajar mengevaluasi, menerima, menolak, dan menegosiasikan feedback tersebut.
Jadi:
Results = What did we find?
Discussion = What does it mean?
Conclusion = What can we ultimately conclude?
3. Jangan Menulis Conclusion dengan Copy–Paste Abstract
Abstract dan Conclusion memiliki fungsi berbeda.
Abstract memberikan gambaran keseluruhan artikel kepada pembaca sebelum membaca naskah.
Conclusion memberikan pemaknaan akhir setelah pembaca mengetahui penelitian dan hasilnya.
Karena itu, Conclusion tidak perlu kembali menjelaskan secara lengkap:
- background;
- jumlah peserta;
- seluruh prosedur;
- semua hasil statistik; atau
- seluruh tema penelitian.
Fokusnya adalah pesan akhir penelitian.
4. Mulailah dengan Tujuan Penelitian
Salah satu cara paling aman memulai Conclusion adalah kembali pada tujuan utama penelitian.
Misalnya:
“This study examined how learners engaged with AI-generated feedback during L2 writing revision.”
Setelah itu, langsung berikan jawaban utamanya.
“The findings indicate that engagement was not limited to accepting corrective suggestions but involved increasingly selective evaluation, questioning, and negotiation.”
Dua kalimat tersebut sudah menghubungkan:
Purpose → Answer
Pembaca segera mengetahui apa yang dilakukan dan apa kesimpulan utamanya.
5. Conclusion Harus Menjawab Research Question
Sebelum menulis Conclusion, buka kembali Research Questions.
Misalnya penelitian memiliki tiga RQ:
RQ1: Bagaimana pola interaksi peserta berubah?
RQ2: Bagaimana peserta mengevaluasi feedback?
RQ3: Bagaimana perubahan tersebut berkaitan dengan proses revisi?
Kemudian tanyakan:
Apakah Conclusion memberikan jawaban akhir terhadap ketiganya?
Tidak harus menulis:
“The answer to RQ1 is....”
Namun, substansinya harus terlihat.
Cara sederhana adalah membuat tabel kerja sebelum menulis:
| RQ | Jawaban Utama | Perlu Masuk Conclusion? |
|---|---|---|
| RQ1 | Pola A berubah menjadi B | ✓ |
| RQ2 | Evaluasi semakin selektif | ✓ |
| RQ3 | Perubahan berkaitan dengan... | ✓ |
Tabel tersebut tidak harus dimasukkan ke artikel. Gunakan sebagai alat pemeriksaan.
6. Pilih Temuan yang Benar-Benar Utama
Conclusion tidak perlu memasukkan semua temuan.
Misalnya penelitian menghasilkan:
- 8 tabel;
- 4 tema;
- 12 subtema;
- 6 hasil statistik; dan
- berbagai kutipan peserta.
Tidak semuanya perlu diulang.
Pilih temuan yang paling penting untuk menjawab:
Apa pesan utama penelitian ini?
Jika pembaca hanya mengingat dua atau tiga hal dari artikel, hal apa yang seharusnya mereka ingat?
Itulah yang layak mendapat tempat dalam Conclusion.
7. Hindari Mengulang Angka Secara Berlebihan
Results mungkin melaporkan:
M = 72.31, SD = 5.42, p < .001, d = 0.81.
Conclusion biasanya tidak perlu mengulang semua angka tersebut.
Lebih baik fokus pada maknanya:
“Participants demonstrated substantial improvement following the intervention.”
Namun, pastikan kalimat tersebut memang didukung Results.
Jika angka tertentu sangat penting bagi pesan utama penelitian, angka tersebut tetap dapat disebut. Prinsipnya adalah selektif, bukan melarang angka sama sekali.
8. Jangan Memasukkan Temuan Baru
Ini salah satu aturan penting.
Jika sebuah temuan belum pernah dilaporkan dalam Results, jangan tiba-tiba muncul dalam Conclusion.
Misalnya Conclusion mengatakan:
“Female participants showed greater improvement than male participants.”
Padahal analisis berdasarkan gender tidak pernah dilaporkan.
Ini menimbulkan masalah.
Conclusion harus dibangun dari:
temuan yang telah dilaporkan → dibahas → disimpulkan
Bukan:
temuan baru → Conclusion
9. Bergerak dari Findings menuju Synthesis
Conclusion yang lemah sering berbentuk daftar:
Temuan pertama adalah A.
Temuan kedua adalah B.
Temuan ketiga adalah C.
Conclusion yang lebih kuat mencari hubungan:
Apa gambaran yang muncul jika A, B, dan C dibaca bersama?
Misalnya:
Finding A: Peserta awalnya meminta koreksi.
Finding B: Kemudian lebih sering meminta penjelasan.
Finding C: Beberapa peserta mulai mempertanyakan saran AI.
Sintesisnya dapat menjadi:
Keterlibatan dengan AI tampak berkembang dari correction-seeking menuju bentuk interaksi yang lebih evaluatif dan negosiatif.
Inilah nilai tambah Conclusion.
10. Temukan “One-Sentence Takeaway”
Coba selesaikan kalimat berikut:
“Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa....”
Jika sulit menjawabnya dalam satu atau dua kalimat, kemungkinan pesan utama penelitian belum cukup jelas.
Misalnya:
“Overall, the study suggests that effective engagement with AI-generated feedback depends not merely on access to automated suggestions but on learners' capacity to evaluate and negotiate those suggestions during revision.”
Kalimat seperti ini dapat menjadi inti Conclusion.
Seluruh paragraf lainnya kemudian memperjelas konsekuensi dari pesan tersebut.
11. Tegaskan Contribution
Setelah menyampaikan jawaban utama, jelaskan:
Apa yang diberikan penelitian ini terhadap pengetahuan yang sudah ada?
Jangan berhenti pada:
“This study contributes to the literature.”
Sebutkan kontribusinya.
Misalnya:
“The study contributes to emerging research on AI-mediated L2 writing by showing that learner engagement can involve shifting patterns of acceptance, questioning, and negotiation rather than a stable mode of technology use.”
Sekarang kontribusinya terlihat.
12. Bedakan Temuan dan Kontribusi
Temuan adalah apa yang ditemukan dalam data.
Kontribusi adalah apa yang menjadi lebih dapat dipahami karena temuan tersebut.
Contoh:
Temuan
Peserta semakin sering mempertanyakan feedback.
Interpretasi
Engagement menjadi lebih evaluatif.
Kontribusi
Penelitian menunjukkan bahwa AI engagement dapat dipahami sebagai proses yang berubah, bukan sekadar perilaku menerima atau menolak feedback.
Perbedaannya dapat diringkas:
Finding → What happened?
Contribution → What do we now understand better?
13. Contribution Harus Sesuai dengan Research Gap
Jika Introduction mengatakan gap penelitian adalah:
Kurangnya pemahaman tentang bagaimana engagement dengan AI berubah selama proses revisi.
Maka Conclusion seharusnya kembali pada persoalan tersebut.
Misalnya:
“By tracing revision across multiple sessions, the study provides a process-oriented account of how learner engagement with AI feedback may change over time.”
Sekarang lingkaran argumentasi tertutup:
Gap → Study → Findings → Contribution
Ini membuat artikel terasa utuh.
14. Jangan Membesar-besarkan Novelty
Hindari klaim seperti:
“This is the first study in the world....”
“This study proves....”
“These findings revolutionize....”
kecuali benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
Lebih aman dan akademis menggunakan:
“This study provides evidence that....”
“The findings extend current understanding of....”
“The study highlights....”
“The findings suggest....”
“This study offers a process-oriented perspective on....”
Kekuatan bahasa harus sesuai dengan kekuatan bukti.
15. Jangan Mengklaim Lebih dari Desain Penelitian
Misalnya penelitian kualitatif terhadap delapan peserta di satu institusi.
Conclusion tidak tepat jika mengatakan:
“These findings demonstrate how all university students use generative AI.”
Lebih proporsional:
“The findings provide insight into how learners in this context engaged with AI-generated feedback during revision.”
Hal yang sama berlaku pada penelitian kuantitatif.
Jika desain tidak memungkinkan inferensi kausal, jangan menyimpulkan:
“X caused Y.”
Kesimpulan tidak boleh lebih kuat daripada Method dan Results.
16. Tambahkan Implikasi yang Benar-Benar Berasal dari Temuan
Setelah menjelaskan kontribusi, tanyakan:
Apa konsekuensi praktis atau konseptual dari temuan ini?
Misalnya penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa tidak selalu mampu mengevaluasi feedback AI.
Implikasinya bukan sekadar:
“Teachers should use AI.”
Lebih relevan:
“AI-supported writing activities may need to incorporate opportunities for learners to evaluate, compare, and justify responses to automated feedback rather than simply implement suggested corrections.”
Implikasi tersebut dapat ditelusuri langsung ke temuan.
17. Bedakan Contribution dan Implication
Keduanya sering tercampur.
Contribution
Menjawab:
Apa yang diberikan penelitian kepada pengetahuan?
Implication
Menjawab:
Apa yang sebaiknya dipertimbangkan karena pengetahuan tersebut?
Misalnya:
Contribution:
Engagement dengan AI dapat bersifat dinamis dan evaluatif.
Implication:
Desain pembelajaran sebaiknya memberi ruang bagi siswa untuk mengevaluasi dan mempertanyakan output AI.
Dengan demikian:
Finding → Contribution → Implication
18. Apakah Limitations Harus Ada di Conclusion?
Tidak selalu.
Beberapa jurnal memiliki bagian:
Discussion
Limitations
Conclusion
Jurnal lain menggabungkan:
Discussion and Conclusion
atau:
Conclusion, Implications, and Limitations
Ikuti struktur jurnal tujuan.
Jika limitation ditempatkan dalam Conclusion, cukup sampaikan keterbatasan yang benar-benar memengaruhi interpretasi.
Misalnya:
“Because the study involved a small group of learners within one instructional context, the findings should be interpreted as context-specific rather than broadly representative.”
Kalimat tersebut tidak hanya mengatakan sampelnya kecil, tetapi menjelaskan konsekuensi metodologisnya.
19. Hindari Limitation yang Merusak Penelitian Sendiri
Kurang tepat:
“This study has many weaknesses.”
atau:
“The sample was too small to provide meaningful results.”
Jika benar-benar tidak dapat memberikan hasil bermakna, pertanyaannya justru mengapa penelitian dilakukan.
Lebih baik:
“The small, context-specific sample enabled detailed examination of learner interaction but limits claims about broader population patterns.”
Kalimat ini tetap transparan tanpa menutupi karakter desain.
20. Future Research Harus Berasal dari Batas Penelitian
Future research bukan kalimat wajib yang ditempelkan di akhir artikel.
Hindari:
“Future researchers should conduct similar studies with more participants.”
Lebih spesifik:
“Longitudinal research involving learners across proficiency levels could examine whether the evaluative patterns identified here persist as experience with generative AI develops.”
Saran tersebut menunjukkan hubungan:
Current limitation → Remaining question → Future research
21. Jangan Membuka Topik Baru di Paragraf Terakhir
Paragraf terakhir bukan tempat memperkenalkan:
- teori baru;
- variabel baru;
- literatur baru yang belum dibahas;
- analisis baru; atau
- persoalan baru yang tidak terkait.
Conclusion harus menutup argumentasi, bukan membuka manuskrip kedua.
Jika sebuah gagasan sangat penting tetapi baru muncul di Conclusion, tanyakan:
Mengapa gagasan ini tidak muncul sebelumnya?
Mungkin gagasan tersebut perlu dimasukkan ke Discussion, atau justru tidak diperlukan.
22. Apakah Conclusion Perlu Sitasi?
Tergantung gaya jurnal dan fungsi kalimat.
Dalam banyak artikel empiris, Conclusion dapat ditulis dengan sedikit atau tanpa sitasi karena fokusnya adalah menyimpulkan penelitian sendiri.
Namun, jika Conclusion membuat klaim yang bergantung pada literatur tertentu, sitasi mungkin diperlukan.
Yang perlu dihindari adalah mengubah Conclusion menjadi literature review baru.
Conclusion seharusnya tetap berpusat pada:
penelitian ini → temuannya → kontribusinya → implikasinya
23. Berapa Panjang Conclusion?
Tidak ada jumlah kata universal.
Conclusion bisa terdiri dari:
- satu paragraf;
- beberapa paragraf;
- satu bagian lengkap dengan implications dan limitations.
Tergantung:
- kompleksitas penelitian;
- jumlah RQ;
- struktur jurnal;
- batas kata; dan
- apakah implications serta limitations ditempatkan di bagian yang sama.
Prinsipnya:
Conclusion harus cukup panjang untuk menutup argumentasi, tetapi tidak mengulang seluruh artikel.
24. Struktur Conclusion yang Praktis
Untuk artikel empiris, pola berikut dapat digunakan.
Paragraf 1 — Purpose + Main Answer
Ingatkan tujuan penelitian secara singkat kemudian berikan jawaban utamanya.
Paragraf 2 — Synthesis of Findings
Gabungkan temuan penting menjadi satu gambaran.
Paragraf 3 — Contribution
Jelaskan apa yang menjadi lebih dapat dipahami karena penelitian.
Paragraf 4 — Implication
Jelaskan konsekuensi teoritis, metodologis, atau praktis yang benar-benar didukung.
Paragraf 5 — Limitation/Future Research
Jika diperlukan oleh struktur artikel, jelaskan batas interpretasi dan pertanyaan berikutnya.
Tidak semua penelitian membutuhkan lima paragraf terpisah. Beberapa elemen dapat digabungkan.
25. Formula Sederhana Menulis Conclusion
Gunakan lima pertanyaan:
1. Apa yang ingin penelitian ini jawab?
2. Apa jawaban utamanya?
3. Apa yang dapat disimpulkan jika seluruh temuan dibaca bersama?
4. Apa kontribusinya?
5. Mengapa temuan tersebut penting?
Jika relevan, tambahkan:
6. Sampai di mana kesimpulan ini berlaku?
7. Apa yang masih perlu diteliti?
Formula ringkasnya:
PURPOSE → ANSWER → SYNTHESIS → CONTRIBUTION → IMPLICATION
26. Contoh Conclusion yang Terlalu Deskriptif
Misalnya penelitian mengenai AI-mediated writing menghasilkan tiga temuan.
Conclusion yang kurang kuat:
“This study investigated students' use of AI in writing. The findings showed that students used AI for correction, explanation, and revision. Some students also questioned AI responses. Future studies should involve more participants.”
Masalahnya, paragraf tersebut hanya meringkas aktivitas.
Pembaca belum memperoleh pesan ilmiah yang jelas.
27. Contoh Conclusion yang Lebih Analitis
Versi yang lebih kuat dapat berbentuk:
“This study examined how learners engaged with AI-generated feedback during L2 writing revision. Taken together, the findings suggest that engagement was not limited to obtaining corrections but involved varying degrees of explanation seeking, evaluation, and negotiation. This process-oriented perspective highlights that the pedagogical significance of generative AI may depend less on the availability of automated feedback itself than on how learners interpret and act upon that feedback. The findings therefore support greater attention to evaluative engagement in AI-supported writing activities.”
Perbedaannya adalah adanya:
jawaban → sintesis → makna → kontribusi → implikasi
Bukan sekadar daftar hasil.
28. Gunakan “So What?” untuk Menguji Conclusion
Setelah menulis Conclusion, tanyakan:
“So what?”
Contoh:
“Mahasiswa menggunakan AI untuk merevisi tulisan.”
So what?
Penggunaan AI tidak hanya berupa penerimaan koreksi.
So what?
Peserta menunjukkan pola evaluasi yang berbeda.
So what?
Artinya, efektivitas penggunaan AI mungkin tidak cukup dinilai dari frekuensi penggunaan.
So what?
Penelitian dan pembelajaran perlu memperhatikan kualitas engagement, bukan hanya akses terhadap AI.
Proses ini membantu menemukan pesan akhir yang lebih bermakna.
29. Uji Sinkronisasi dengan Introduction
Buka Introduction dan Conclusion secara berdampingan.
Introduction biasanya bergerak:
Problem → Literature → Gap → Purpose/RQ
Conclusion seharusnya bergerak:
Answer → Synthesis → Contribution → Implication
Dengan demikian, artikel membentuk lingkaran:
PROBLEM → GAP → RQ → METHOD → RESULTS → DISCUSSION → CONCLUSION
Kemudian tanyakan:
Apakah persoalan yang dijanjikan pada Introduction benar-benar diselesaikan dalam Conclusion?
Jika tidak, ada kemungkinan masalah sinkronisasi.
30. Kesalahan Umum dalam Menulis Conclusion
Beberapa kesalahan yang perlu dihindari:
Meng-copy Abstract.
Mengulang Results secara panjang.
Mengulang Discussion.
Memasukkan semua angka statistik.
Memperkenalkan temuan baru.
Membuat klaim kausal yang tidak didukung desain.
Menggeneralisasi melebihi karakter sampel.
Mengklaim novelty secara berlebihan.
Menulis contribution secara abstrak.
Memberikan rekomendasi yang tidak berasal dari temuan.
Menambahkan teori baru.
Menutup dengan “future research is needed” tanpa menjelaskan apa yang perlu diteliti.
31. Checklist Conclusion Sebelum Submit
| Pertanyaan | Periksa |
|---|---|
| Apakah Conclusion kembali pada tujuan penelitian? | ✓ |
| Apakah RQ terjawab? | ✓ |
| Apakah hanya temuan utama yang diringkas? | ✓ |
| Apakah temuan disintesis, bukan sekadar didaftar? | ✓ |
| Apakah tidak ada data baru? | ✓ |
| Apakah tidak mengulang Discussion secara panjang? | ✓ |
| Apakah contribution dinyatakan secara konkret? | ✓ |
| Apakah contribution menjawab research gap? | ✓ |
| Apakah implication berasal dari findings? | ✓ |
| Apakah klaim sesuai dengan desain penelitian? | ✓ |
| Apakah generalisasi proporsional? | ✓ |
| Apakah limitation menjelaskan batas interpretasi? | ✓ |
| Apakah future research spesifik jika dicantumkan? | ✓ |
| Apakah pesan akhir penelitian mudah dikenali? | ✓ |
32. Research Tools sebagai Pendukung
Research tools dan AI dapat membantu memeriksa konsistensi Conclusion.
Misalnya, setelah draft selesai, peneliti dapat membandingkan:
Research Questions vs Conclusion
Results vs Conclusion
Research Gap vs Contribution
Findings vs Implications
AI juga dapat membantu mengidentifikasi apakah sebuah kalimat tampak:
- terlalu general;
- terlalu kausal;
- tidak memiliki dukungan di Results;
- hanya mengulang Discussion; atau
- tidak berkaitan dengan RQ.
Namun, jangan meminta AI menghasilkan kontribusi yang sebenarnya tidak ada dalam data.
Contribution ditemukan melalui interpretasi terhadap penelitian, bukan ditambahkan untuk membuat artikel terlihat lebih menarik.
Kesimpulan
Conclusion yang baik bukan ringkasan seluruh artikel dalam versi lebih pendek.
Ia merupakan jawaban akhir terhadap persoalan penelitian.
Mulailah dari tujuan dan research question. Pilih temuan yang paling penting, lalu sintesis temuan tersebut untuk menghasilkan pesan utama.
Setelah itu, tanyakan:
Apa yang sekarang dapat kita pahami lebih baik?
Itulah dasar contribution.
Kemudian:
Mengapa pemahaman tersebut penting?
Itulah dasar implication.
Dan terakhir:
Sampai di mana kesimpulan tersebut dapat dipertanggungjawabkan?
Itulah fungsi limitation.
Formula sederhananya:
PURPOSE → ANSWER → SYNTHESIS → CONTRIBUTION → IMPLICATION
Jika lima bagian tersebut terhubung dengan baik, Conclusion tidak lagi menjadi paragraf formal yang sekadar menandai bahwa artikel telah selesai.
Ia menjadi bagian yang membuat pembaca memahami apa pesan akhir penelitian, apa kontribusinya, dan mengapa penelitian tersebut layak diingat.
