Pendahuluan

Introduction sering menjadi salah satu bagian pertama yang menentukan apakah pembaca tertarik melanjutkan membaca sebuah artikel ilmiah.

Masalahnya, banyak Introduction ditulis seperti kumpulan teori dan penelitian terdahulu. Paragraf pertama menjelaskan definisi, paragraf berikutnya menyebut beberapa penelitian, kemudian tiba-tiba muncul kalimat:

“Namun, masih terdapat research gap.”

Research gap sebenarnya tidak cukup hanya dinyatakan. Gap harus dibangun melalui argumentasi.

Introduction yang kuat membantu pembaca memahami perjalanan logis:

Masalah → Apa yang sudah diketahui → Apa yang belum diketahui → Mengapa penting → Apa yang dilakukan penelitian ini

Dengan alur tersebut, pembaca mengetahui bukan hanya topik penelitian, tetapi juga mengapa penelitian tersebut perlu dilakukan.

1. Introduction Bukan Sekadar Latar Belakang

Kesalahan yang cukup umum adalah memperlakukan Introduction sebagai tempat memasukkan sebanyak mungkin informasi tentang topik.

Misalnya penelitian membahas penggunaan AI dalam pembelajaran bahasa. Introduction kemudian berisi:

  • perkembangan teknologi;
  • definisi artificial intelligence;
  • sejarah AI;
  • manfaat teknologi;
  • pendidikan digital;
  • ChatGPT;
  • pembelajaran bahasa; dan
  • berbagai penelitian terdahulu.

Semua informasi tersebut mungkin berhubungan dengan topik, tetapi belum tentu membantu membangun masalah penelitian.

Setiap paragraf sebaiknya mempunyai fungsi dalam argumentasi.

Tanyakan:

“Mengapa pembaca perlu mengetahui informasi ini untuk memahami alasan penelitian dilakukan?”

Jika suatu paragraf tidak membantu menjawab pertanyaan tersebut, pertimbangkan apakah benar-benar diperlukan.

2. Mulai dari Masalah, Bukan Definisi

Introduction sering dimulai dengan kalimat seperti:

“Education is an important aspect of human life.”

atau:

“Technology has developed rapidly in the modern era.”

Kalimat seperti ini terlalu luas dan dapat digunakan pada ribuan artikel.

Lebih baik mulai dari fenomena atau masalah yang langsung berkaitan dengan penelitian.

Misalnya:

“Generative AI increasingly provides language learners with immediate opportunities to revise their writing, yet access to automated feedback does not necessarily explain how learners evaluate, question, or negotiate the suggestions they receive.”

Kalimat tersebut langsung membawa pembaca menuju masalah penelitian.

Prinsip sederhananya:

Semakin spesifik pembukaan terhadap masalah penelitian, semakin cepat pembaca memahami arah artikel.

3. Jelaskan Apa yang Sudah Diketahui

Setelah masalah diperkenalkan, tunjukkan bagaimana penelitian sebelumnya telah membahasnya.

Tujuannya bukan membuat daftar sitasi.

Kurang efektif:

“Previous studies have investigated AI in education (A, 2022; B, 2023; C, 2024). Another study was conducted by D (2025). E (2025) also investigated AI.”

Struktur tersebut hanya menunjukkan bahwa penelitian terdahulu ada.

Lebih baik lakukan sintesis:

“Existing studies have primarily examined AI-supported writing through feedback accuracy, writing performance, learner perceptions, and patterns of technology use.”

Dengan cara tersebut, beberapa penelitian ditempatkan sebagai pola pengetahuan, bukan sebagai daftar artikel.

4. Apa Sebenarnya Research Gap?

Research gap adalah sesuatu yang belum cukup diketahui, dijelaskan, diuji, dibandingkan, atau dipahami berdasarkan penelitian sebelumnya.

Gap dapat muncul dalam berbagai bentuk.

Empirical Gap

Fenomena tertentu belum banyak memiliki bukti empiris.

Contextual Gap

Fenomena telah diteliti, tetapi konteks tertentu masih kurang dipahami.

Methodological Gap

Penelitian sebelumnya didominasi pendekatan tertentu sehingga aspek lain belum terlihat.

Theoretical Gap

Teori yang ada belum cukup digunakan atau diuji untuk menjelaskan fenomena tertentu.

Population Gap

Kelompok peserta tertentu masih kurang terwakili.

Process Gap

Penelitian mengetahui hasil akhirnya, tetapi belum cukup menjelaskan bagaimana proses tersebut terjadi.

Jenis terakhir sering sangat penting dalam penelitian pendidikan dan pembelajaran bahasa.

Misalnya penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa AI dapat membantu revisi tulisan, tetapi masih terbatas pengetahuan mengenai:

bagaimana pembelajar mengevaluasi, mempertanyakan, menerima, memodifikasi, atau menolak saran AI selama proses revisi.

Itulah gap yang lebih spesifik daripada sekadar mengatakan:

“Few studies have investigated AI.”

5. Jangan Membuat Gap yang Terlalu Besar

Hindari klaim seperti:

“No previous study has investigated this topic.”

Klaim tersebut sangat kuat dan sulit dibuktikan.

Lebih aman dan akademis menggunakan formulasi seperti:

  • remains underexplored;
  • has received limited attention;
  • is less well understood;
  • relatively little is known about; atau
  • existing research has primarily focused on..., leaving ... less clearly understood.

Bahasa tersebut tetap menunjukkan gap tanpa membuat klaim absolut yang mungkin tidak dapat dipertahankan.

6. Research Gap Harus Muncul dari Literatur

Jangan menentukan gap terlebih dahulu kemudian mencari beberapa artikel untuk membenarkannya.

Gap yang kuat muncul setelah peneliti memahami pola literatur.

Misalnya setelah membaca penelitian terdahulu, ditemukan:

Sebagian besar studi mengukur hasil belajar.

Kemudian:

Beberapa penelitian membahas persepsi peserta.

Tetapi:

Sedikit perhatian diberikan pada proses interaksi yang menghasilkan perubahan tersebut.

Maka gap dapat dirumuskan sebagai:

Outcome banyak diketahui, tetapi process masih kurang dipahami.

Alur seperti ini membuat gap lebih meyakinkan karena pembaca dapat melihat bagaimana kesimpulan tersebut dibangun.

7. Bedakan Research Gap dan Novelty

Keduanya berhubungan tetapi tidak sama.

Research gap menjawab:

Apa yang belum cukup diketahui?

Novelty atau contribution menjawab:

Apa yang diberikan penelitian ini untuk membantu mengisi kekurangan tersebut?

Contohnya:

Gap:
Belum banyak diketahui bagaimana pembelajar menegosiasikan umpan balik AI selama proses revisi.

Contribution:
Penelitian ini menelusuri pola penerimaan, keraguan, evaluasi, dan negosiasi peserta selama beberapa tugas revisi.

Dengan demikian:

Gap = masalah dalam pengetahuan

Contribution = apa yang ditawarkan penelitian

8. Jangan Mengandalkan “Different Context” sebagai Satu-satunya Gap

Kalimat seperti:

“Previous research was conducted in China, while this study was conducted in Indonesia.”

belum otomatis menunjukkan kontribusi.

Pembaca dapat bertanya:

Mengapa perbedaan konteks tersebut penting secara ilmiah?

Konteks menjadi bermakna jika dapat memengaruhi fenomena.

Misalnya:

  • lingkungan multilingual;
  • bahasa yang dipelajari jarang digunakan di luar kelas;
  • struktur institusional berbeda;
  • tradisi pedagogis tertentu;
  • karakteristik peserta berbeda; atau
  • posisi sosial bahasa berbeda.

Jadi bukan hanya:

“Belum diteliti di Indonesia.”

Tetapi:

“Konteks Indonesia memungkinkan kita memahami aspek fenomena yang sulit terlihat dalam konteks penelitian sebelumnya.”

9. Bangun Introduction seperti Corong

Struktur Introduction dapat dibayangkan seperti corong:

Fenomena yang relevan

↓

Masalah spesifik

↓

Apa yang diketahui dari penelitian terdahulu

↓

Apa yang belum diketahui

↓

Mengapa gap tersebut penting

↓

Apa yang dilakukan penelitian ini

↓

Research questions

Semakin mendekati akhir Introduction, pembahasan semakin spesifik menuju penelitian Anda.

10. Gunakan Literatur untuk Membangun Argumen

Literatur bukan dekorasi akademik.

Setiap sitasi sebaiknya mempunyai fungsi.

Literatur dapat digunakan untuk:

Menetapkan masalah

Penelitian menunjukkan bahwa fenomena X menjadi semakin penting.

Menunjukkan konsensus

Sejumlah studi menemukan pola Y.

Menunjukkan perbedaan

Namun, hasil penelitian mengenai Z masih beragam.

Menunjukkan keterbatasan

Sebagian besar studi berfokus pada outcome.

Membangun gap

Akibatnya, proses yang menghasilkan outcome tersebut masih kurang dipahami.

Dengan demikian, sitasi bekerja sebagai bagian dari argumentasi, bukan sekadar bukti bahwa penulis telah membaca banyak artikel.

11. Hindari Satu Paragraf Satu Peneliti

Struktur berikut sering membuat Introduction terasa seperti daftar:

“A (2023) found....”

“B (2024) investigated....”

“C (2025) reported....”

Lebih baik kelompokkan penelitian berdasarkan tema, pola, pendekatan, atau temuan.

Misalnya:

“Research on AI-mediated writing has developed along three broad lines: studies examining writing outcomes, research investigating learner perceptions, and work focusing on feedback characteristics.”

Setelah itu, gunakan beberapa sumber untuk mendukung setiap pola.

Ini disebut sintesis literatur.

12. Tunjukkan Mengapa Gap Penting

Gap saja belum cukup.

Pembaca juga perlu mengetahui:

So what?

Misalnya:

“Belum diketahui bagaimana mahasiswa mengevaluasi saran AI.”

Mengapa hal tersebut penting?

Mungkin karena:

  • penerimaan otomatis dapat menghasilkan revisi yang tidak tepat;
  • kemampuan mengevaluasi feedback berkaitan dengan learner agency;
  • interaksi dengan AI dapat memengaruhi proses belajar;
  • penggunaan AI semakin umum dalam pembelajaran menulis.

Dengan menjelaskan konsekuensinya, gap berubah dari sekadar “sesuatu yang belum diteliti” menjadi masalah ilmiah yang layak diteliti.

13. Dari Gap Menuju Tujuan Penelitian

Setelah gap jelas, tujuan penelitian seharusnya muncul secara alami.

Misalnya:

Gap:

“Relatively little is known about how learners evaluate and negotiate AI-generated feedback during revision.”

Kemudian:

Purpose:

“This study therefore examines how learners engage with, evaluate, and negotiate AI-generated feedback across a series of writing revision tasks.”

Pembaca dapat melihat hubungan langsung:

Gap → Purpose

Jika tujuan penelitian muncul tiba-tiba dan tidak berkaitan dengan gap sebelumnya, Introduction perlu diperiksa kembali.

14. Dari Tujuan Menuju Research Questions

Research questions harus merupakan konsekuensi logis dari tujuan penelitian.

Misalnya:

Purpose:

Penelitian mengeksplorasi bagaimana keterlibatan peserta dengan feedback AI berkembang selama proses revisi.

RQ dapat diarahkan pada:

RQ1. Bagaimana pola keterlibatan peserta dengan feedback AI selama tugas revisi?

RQ2. Bagaimana peserta menunjukkan keraguan, evaluasi, dan negosiasi terhadap saran AI?

RQ3. Bagaimana pola tersebut berubah sepanjang rangkaian tugas?

Jangan memasukkan RQ yang tidak dipersiapkan oleh argumentasi Introduction.

15. Berapa Banyak Referensi dalam Introduction?

Tidak ada jumlah referensi yang berlaku untuk semua jurnal.

Jumlahnya tergantung:

  • bidang penelitian;
  • panjang artikel;
  • kompleksitas masalah;
  • kebaruan topik;
  • pedoman jurnal; dan
  • kebutuhan argumentasi.

Yang lebih penting bukan:

“Berapa banyak referensi?”

melainkan:

“Apakah referensi yang digunakan cukup untuk mendukung setiap langkah argumentasi?”

Dua puluh referensi yang disintesis dengan baik dapat lebih efektif daripada lima puluh referensi yang hanya disebutkan satu per satu.

16. Gunakan Referensi yang Relevan dan Mutakhir

Literatur terbaru penting terutama untuk menunjukkan posisi penelitian saat ini.

Namun, bukan berarti semua sumber lama harus dihapus.

Referensi klasik tetap relevan jika:

  • memperkenalkan teori penting;
  • menjadi sumber konsep utama;
  • merupakan karya seminal; atau
  • diperlukan untuk menjelaskan perkembangan suatu gagasan.

Gunakan kombinasi:

Seminal literature + relevant recent research

Bukan sekadar:

Old vs new references.

17. Jangan Membuat Introduction Terlalu Panjang

Introduction harus cukup panjang untuk membangun argumentasi, tetapi tidak perlu menjelaskan seluruh teori dan seluruh penelitian terdahulu.

Jika jurnal mempunyai bagian Literature Review terpisah, Introduction dapat dibuat lebih fokus.

Jika tidak ada Literature Review terpisah, Introduction biasanya perlu memuat sintesis literatur yang lebih substantif.

Yang terpenting adalah setiap paragraf membawa pembaca semakin dekat kepada:

research gap dan tujuan penelitian.

18. Pola Lima Langkah Introduction

Sebagai kerangka praktis, Introduction dapat dibangun melalui lima langkah.

Langkah 1 — Establish the Problem

Jelaskan fenomena atau masalah penelitian.

Langkah 2 — Establish What We Know

Sintesis pengetahuan yang telah dihasilkan penelitian sebelumnya.

Langkah 3 — Establish What We Do Not Know

Identifikasi research gap.

Langkah 4 — Establish Why It Matters

Jelaskan mengapa gap tersebut penting.

Langkah 5 — Establish the Present Study

Jelaskan tujuan, kontribusi, dan research questions.

Ringkasnya:

Problem → Literature → Gap → Significance → Present Study

Kerangka ini bukan aturan mutlak, tetapi dapat membantu penulis menghindari Introduction yang hanya menjadi kumpulan referensi.

19. Contoh Alur Introduction

Misalnya topiknya adalah penggunaan AI dalam revisi tulisan.

Paragraf 1 — Fenomena

AI semakin banyak digunakan untuk memberikan feedback dalam pembelajaran menulis.

Paragraf 2 — Pengetahuan yang Ada

Penelitian sebelumnya menunjukkan berbagai manfaat dan keterbatasan AI-generated feedback.

Paragraf 3 — Fokus Penelitian Sebelumnya

Sebagian penelitian berfokus pada kualitas feedback, outcome tulisan, dan persepsi pengguna.

Paragraf 4 — Gap

Lebih sedikit diketahui mengenai bagaimana peserta mengevaluasi dan menegosiasikan feedback selama proses revisi.

Paragraf 5 — Signifikansi

Pemahaman terhadap proses tersebut penting untuk menjelaskan learner agency dan keterlibatan kritis dengan AI.

Paragraf 6 — Present Study

Penelitian kemudian menjelaskan tujuan, kontribusi, konteks, dan research questions.

Perhatikan bahwa setiap paragraf mempunyai pekerjaan tertentu.

20. Checklist Introduction Sebelum Submit

PertanyaanPeriksa
Apakah masalah penelitian jelas sejak awal?✓
Apakah pembukaan tidak terlalu umum?✓
Apakah literatur disintesis, bukan hanya didaftarkan?✓
Apakah research gap dapat ditelusuri dari literatur?✓
Apakah klaim gap tidak berlebihan?✓
Apakah pentingnya gap dijelaskan?✓
Apakah novelty/contribution dibedakan dari gap?✓
Apakah konteks penelitian memiliki alasan ilmiah?✓
Apakah tujuan penelitian menjawab gap?✓
Apakah RQ konsisten dengan tujuan?✓
Apakah referensi relevan dan cukup mutakhir?✓
Apakah setiap paragraf mempunyai fungsi?✓

Jika sebagian besar pertanyaan tersebut dapat dijawab ya, struktur Introduction sudah berada pada arah yang baik.

21. Uji Introduction dengan Satu Pertanyaan

Setelah Introduction selesai, coba berikan kepada seseorang yang belum mengetahui penelitian Anda.

Kemudian tanyakan:

“Setelah membaca Introduction ini, mengapa penelitian saya perlu dilakukan?”

Jika pembaca dapat menjawab dengan jelas, Introduction kemungkinan telah berhasil membangun argumentasi.

Jika jawabannya hanya:

“Karena topiknya menarik.”

atau:

“Karena belum pernah diteliti di lokasi tersebut.”

maka argumentasinya kemungkinan masih perlu diperkuat.

Pembaca idealnya dapat mengatakan:

“Kita sudah mengetahui A dan B, tetapi C masih kurang dipahami. C penting karena D. Karena itu, penelitian ini melakukan E.”

Itulah logika dasar Introduction yang kuat.

22. Research Tools sebagai Pendukung

Research Tools dapat membantu proses persiapan manuskrip, tetapi tidak menggantikan pembacaan kritis terhadap literatur.

Tool dapat membantu peneliti mengorganisasikan:

  • research question;
  • instrumen;
  • data;
  • analisis;
  • dan pemeriksaan konsistensi manuskrip.

Namun, research gap tidak seharusnya dihasilkan hanya dari sebuah tool atau AI.

Gap perlu dibangun melalui pembacaan dan sintesis terhadap literatur yang benar-benar relevan.

Gunakan teknologi untuk membantu proses kerja, tetapi keputusan mengenai:

apa yang diketahui, apa yang belum diketahui, dan mengapa penelitian diperlukan

tetap membutuhkan penilaian akademik peneliti.

Kesimpulan

Introduction yang kuat bukan Introduction yang paling panjang atau memiliki referensi paling banyak.

Introduction yang kuat membuat pembaca memahami perjalanan argumentasi:

Apa masalahnya? → Apa yang sudah diketahui? → Apa yang belum diketahui? → Mengapa itu penting? → Apa yang dilakukan penelitian ini?

Research gap tidak cukup ditulis dengan satu kalimat:

“However, there is a gap in the literature.”

Gap harus muncul secara logis dari sintesis penelitian terdahulu.

Demikian pula, novelty bukan sekadar karena penelitian dilakukan pada lokasi, peserta, atau tahun yang berbeda. Kontribusi harus menunjukkan apa yang menjadi lebih dapat dipahami melalui penelitian tersebut.

Jika pembaca mencapai akhir Introduction dan memahami dengan jelas mengapa studi perlu dilakukan, apa yang hendak dijawab, dan apa kontribusi yang diharapkan, Introduction telah menjalankan fungsi utamanya.