Pendahuluan

Setelah proses pengumpulan dan analisis data selesai, peneliti menghadapi tahap penting berikutnya: menyajikan hasil penelitian dalam artikel ilmiah.

Tahap ini terlihat sederhana karena data telah tersedia. Namun, persoalan yang sering muncul justru bukan kekurangan data, melainkan kesulitan menentukan data mana yang perlu ditampilkan dan bagaimana mengubah hasil analisis menjadi temuan yang jelas.

Sebagian penulis memasukkan hampir seluruh keluaran statistik ke dalam artikel. Pada penelitian kualitatif, masalah serupa muncul ketika bagian Results dipenuhi kutipan wawancara tanpa penjelasan mengenai pola yang ditemukan.

Sebaliknya, Results yang terlalu ringkas dapat membuat pembaca kesulitan mengetahui bukti yang mendukung temuan penelitian.

Karena itu, bagian Results bukan tempat untuk menunjukkan sebanyak mungkin data. Tujuan utamanya adalah menyajikan temuan yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian secara jelas, sistematis, dan transparan.

Pertanyaan yang sebaiknya diajukan bukan:

“Data apa saja yang saya miliki?”

melainkan:

“Temuan apa yang perlu diketahui pembaca untuk menjawab research question penelitian ini?”

1. Apa Fungsi Bagian Results?

Secara sederhana, bagian Results menjawab:

Apa yang ditemukan dalam penelitian?

Posisinya dapat dipahami melalui alur:

Research Question → Method → Results → Discussion → Conclusion

Masing-masing mempunyai fungsi berbeda.

BagianPertanyaan Utama
Research QuestionApa yang ingin diketahui?
MethodBagaimana pertanyaan tersebut diteliti?
ResultsApa yang ditemukan?
DiscussionApa arti temuan tersebut?
ConclusionApa yang dapat disimpulkan?

Results berfokus pada temuan dan bukti, sedangkan Discussion berfokus pada interpretasi, hubungan dengan literatur, kontribusi, dan implikasi.

Beberapa jurnal menggunakan bagian gabungan Results and Discussion. Dalam format tersebut, hasil dan interpretasi dapat disajikan berdekatan, tetapi fungsi keduanya tetap perlu dibedakan.

2. Gunakan Research Question sebagai Kompas

Cara paling sederhana menentukan isi Results adalah kembali kepada research questions (RQ).

Misalnya penelitian memiliki tiga pertanyaan:

RQ1: Apakah kemampuan menulis peserta berubah setelah intervensi?

RQ2: Bagaimana pola revisi peserta selama intervensi?

RQ3: Bagaimana peserta memandang pengalaman menggunakan teknologi tersebut?

Results dapat disusun menjadi:

Perubahan Kemampuan Menulis

Bagian ini menjawab RQ1.

Pola Revisi Peserta

Bagian ini menjawab RQ2.

Pengalaman Peserta

Bagian ini menjawab RQ3.

Struktur tersebut memungkinkan pembaca mengikuti hubungan:

RQ → Analisis → Temuan

Dengan demikian, subbagian Results dibuat berdasarkan kebutuhan penelitian, bukan berdasarkan banyaknya output yang dihasilkan perangkat analisis.

3. Tidak Semua Data Harus Ditampilkan

Dalam satu penelitian, peneliti mungkin memiliki:

  • data demografis;
  • skor setiap peserta;
  • hasil pretest dan posttest;
  • output statistik;
  • transkrip wawancara;
  • catatan observasi;
  • hasil coding;
  • dokumentasi;
  • jurnal refleksi; dan
  • berbagai data pendukung lainnya.

Tidak semuanya harus masuk ke Results utama.

Gunakan tiga pertanyaan berikut:

1. Apakah data ini membantu menjawab RQ?

2. Apakah data ini diperlukan untuk memahami temuan?

3. Apakah data ini merupakan bukti penting bagi klaim yang dibuat?

Jika tidak, data tersebut mungkin tidak perlu ditampilkan dalam bagian utama artikel atau dapat ditempatkan sebagai materi tambahan apabila jurnal menyediakan fasilitas tersebut.

Prinsipnya:

Results bukan gudang seluruh data penelitian. Results adalah penyajian bukti yang relevan untuk menjawab pertanyaan penelitian.

4. Bedakan Data dengan Temuan

Data dan temuan bukan hal yang sepenuhnya sama.

Misalnya terdapat skor:

62, 65, 67, 70, 72, 74, 77, 79

Itu adalah data.

Setelah dianalisis, peneliti dapat memperoleh statistik deskriptif atau pola tertentu. Hasil analisis tersebut kemudian digunakan untuk membangun temuan penelitian.

Dalam penelitian kualitatif prinsipnya serupa.

Transkrip wawancara merupakan data. Setelah melalui proses analisis, peneliti mungkin menemukan tema seperti:

Ketidakpastian dalam mengevaluasi umpan balik

Tema tersebut merupakan hasil analisis terhadap data, bukan sekadar salinan ucapan peserta.

Karena itu, Results harus menunjukkan hasil analisis, bukan hanya menampilkan data mentah.

5. Menulis Results Penelitian Kuantitatif

Pada penelitian kuantitatif, informasi yang dilaporkan bergantung pada desain penelitian dan teknik analisis yang digunakan.

Results dapat mencakup:

  • jumlah data yang dianalisis;
  • statistik deskriptif;
  • mean dan standard deviation;
  • median atau ukuran lain jika relevan;
  • hasil pengujian statistik;
  • estimasi;
  • confidence interval;
  • effect size;
  • hubungan antarvariabel; dan
  • informasi lain yang diperlukan untuk menjawab RQ.

Contoh sederhana:

PengukurannMeanSD
Pretest3064,207,84
Posttest3078,506,91

Catatan: angka pada tabel hanya digunakan sebagai ilustrasi.

Jika tabel sudah menyajikan angka secara lengkap, narasi tidak perlu mengulang semuanya.

Daripada menulis:

“Mean pretest adalah 64,20 dengan SD 7,84 dan mean posttest adalah 78,50 dengan SD 6,91.”

narasi dapat dibuat lebih efektif:

“Statistik deskriptif menunjukkan skor rata-rata yang lebih tinggi pada posttest dibandingkan pretest (Tabel 1).”

Setelah itu, hasil analisis inferensial dapat dilaporkan apabila memang dilakukan dan relevan.

6. Jangan Berhenti pada p-Value

Salah satu kebiasaan dalam Results kuantitatif adalah terlalu berfokus pada:

p < .05

Padahal, p-value bukan ukuran besarnya efek.

Jika sesuai dengan desain penelitian dan teknik analisis, pertimbangkan informasi seperti:

  • effect size;
  • confidence interval;
  • estimasi perbedaan; dan
  • statistik deskriptif yang relevan.

Daripada hanya mengatakan:

“Terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok.”

pembaca akan memperoleh informasi yang lebih lengkap jika mengetahui arah dan besarnya perbedaan tersebut.

Namun, statistik yang dilaporkan harus disesuaikan dengan jenis analisis, asumsi statistik, desain penelitian, dan pedoman jurnal tujuan.

Jangan menambahkan ukuran statistik hanya agar analisis terlihat lebih kompleks.

7. Menulis Results Penelitian Kualitatif

Pada penelitian kualitatif, Results bukan kumpulan transkrip wawancara.

Hasil dapat disusun berdasarkan:

  • tema;
  • kategori;
  • pola;
  • pengalaman;
  • proses;
  • kasus;
  • tahapan perkembangan; atau
  • hubungan konseptual yang ditemukan melalui analisis.

Misalnya:

Tema 1 — Penerimaan Awal terhadap Umpan Balik

Jelaskan pola yang ditemukan dan berikan bukti yang relevan.

Tema 2 — Munculnya Ketidakpastian

Jelaskan bagaimana peserta mulai mempertanyakan atau mengevaluasi umpan balik.

Tema 3 — Negosiasi terhadap Saran

Jelaskan bagaimana peserta menerima, memodifikasi, atau menolak saran berdasarkan kebutuhan mereka.

Dengan struktur seperti ini, pembaca tidak hanya mengetahui apa yang dikatakan peserta, tetapi juga pola apa yang ditemukan peneliti dari data tersebut.

8. Kutipan adalah Bukti, Bukan Results Itu Sendiri

Kutipan peserta dapat menjadi bukti penting dalam penelitian kualitatif. Namun, terlalu banyak kutipan tanpa analisis dapat membuat Results berubah menjadi kumpulan transkrip.

Kurang kuat:

“Peserta A mengatakan.... Peserta B mengatakan.... Peserta C mengatakan....”

Lebih analitis:

“Sebagian peserta pada tahap awal memperlakukan umpan balik sebagai koreksi yang perlu diterima. Namun, pada interaksi berikutnya muncul pola evaluasi yang lebih selektif.”

Setelah pola tersebut dijelaskan, kutipan peserta dapat digunakan sebagai bukti.

Prinsip sederhananya:

Analisis memimpin; kutipan mendukung.

Pilih kutipan yang benar-benar membantu pembaca melihat bukti dari pola yang sedang dijelaskan.

9. Bagaimana dengan Mixed Methods?

Dalam mixed-methods research, peneliti memiliki data kuantitatif dan kualitatif.

Kesalahan yang dapat terjadi adalah kedua jenis data hanya diletakkan berdampingan.

Misalnya:

Data kuantitatif: skor meningkat.

Data kualitatif: peserta menjelaskan pengalaman selama intervensi.

Pertanyaan berikutnya adalah:

Bagaimana kedua jenis data tersebut berhubungan?

Data kualitatif mungkin membantu menjelaskan perubahan yang terlihat dalam data kuantitatif. Sebaliknya, data kualitatif mungkin menunjukkan pengalaman yang lebih kompleks daripada kecenderungan statistik.

Integrasi dapat disajikan melalui narasi, tabel, joint display, perbandingan antartemuan, atau strategi lain yang sesuai dengan desain mixed methods.

Tujuannya bukan sekadar memiliki dua jenis data, tetapi menghasilkan pemahaman yang lebih terintegrasi.

10. Kapan Menggunakan Tabel?

Tabel sebaiknya digunakan ketika membantu pembaca memahami informasi secara lebih efisien.

Tabel cocok untuk:

  • karakteristik peserta;
  • statistik deskriptif;
  • perbandingan kelompok;
  • hasil beberapa model;
  • perubahan antarwaktu;
  • kategori temuan; atau
  • informasi kompleks yang sulit dibaca dalam paragraf.

Sebaliknya, jangan membuat tabel jika informasi dapat dijelaskan dengan jelas dalam satu atau dua kalimat.

Tabel harus mempunyai fungsi, bukan sekadar mempercantik artikel.

11. Kapan Menggunakan Grafik?

Grafik bermanfaat jika pembaca perlu melihat pola visual seperti:

  • perubahan dari waktu ke waktu;
  • perbedaan antarkelompok;
  • distribusi data;
  • pola hubungan; atau
  • perkembangan pada beberapa titik pengukuran.

Misalnya, penelitian longitudinal dengan pengukuran pada T1, T2, T3, dan T4 mungkin lebih mudah dipahami melalui grafik.

Namun, visualisasi harus dipilih berdasarkan kebutuhan komunikasi data.

Jangan menggunakan grafik hanya karena data dapat dibuat menjadi grafik.

Gunakan grafik ketika representasi visual membuat pola menjadi lebih mudah dipahami.

12. Hindari Pengulangan antara Teks, Tabel, dan Grafik

Bayangkan sebuah artikel menampilkan angka yang sama dalam tabel, grafik, dan paragraf.

Informasi yang sama akhirnya disampaikan tiga kali.

Lebih efektif jika masing-masing mempunyai fungsi:

Tabel → memberikan detail
Grafik → menunjukkan pola
Narasi → menyoroti temuan utama

Narasi sebaiknya mengarahkan perhatian pembaca pada bagian penting dari tabel atau grafik, bukan membacakan kembali seluruh isinya.

13. Dari Angka Menjadi Temuan

Contoh Results yang terlalu deskriptif:

“Pada pretest, nilai rata-rata peserta adalah 64,20. Pada posttest, nilai rata-rata peserta adalah 78,50. Dengan demikian, nilai posttest lebih tinggi daripada nilai pretest.”

Jika informasi tersebut sudah terdapat pada tabel, narasinya dapat dibuat lebih efisien:

“Statistik deskriptif menunjukkan peningkatan skor rata-rata dari pretest ke posttest (Tabel 1).”

Selanjutnya, penulis dapat melaporkan analisis inferensial yang memang digunakan.

Results yang baik tidak harus panjang. Yang lebih penting adalah:

Apakah pembaca dapat memahami pola utama dan bukti yang mendukungnya?

14. Dari Kutipan Menjadi Temuan Kualitatif

Perhatikan contoh berikut.

Kurang analitis:

“Peserta mengatakan AI membantu. Peserta lain mengatakan AI mudah digunakan. Peserta lainnya mengatakan AI memberikan koreksi.”

Lebih kuat:

“Dua pola utama muncul dalam pengalaman peserta. Pada tahap awal, AI terutama diposisikan sebagai sumber koreksi. Namun, pada interaksi berikutnya, beberapa peserta mulai memperlakukan respons AI sebagai saran yang perlu dievaluasi sebelum diterapkan.”

Kutipan peserta kemudian dapat ditempatkan untuk mendukung masing-masing pola.

Perbedaannya terletak pada proses analisis.

Versi pertama menyajikan apa yang dikatakan peserta.

Versi kedua menunjukkan apa yang ditemukan peneliti dari data peserta.

15. Results dan Discussion: Jangan Tertukar

Perhatikan contoh berikut.

Results

“Peserta semakin sering mempertanyakan saran AI pada sesi berikutnya dibandingkan pada sesi awal.”

Kalimat tersebut melaporkan pola.

Discussion

“Peningkatan respons evaluatif tersebut dapat menunjukkan perubahan cara peserta memosisikan AI, dari sumber koreksi menuju sumber yang sarannya dapat diperiksa dan dinegosiasikan.”

Kalimat kedua mulai menjelaskan makna pola.

Dengan demikian:

Results = Apa yang ditemukan?
Discussion = Apa artinya?

Jika jurnal memisahkan kedua bagian tersebut, interpretasi yang lebih luas sebaiknya ditempatkan pada Discussion.

16. Jangan Memunculkan Temuan Baru di Discussion

Salah satu cara memeriksa konsistensi artikel adalah membaca Discussion dan bertanya:

Apakah semua temuan yang dibahas sudah muncul dalam Results?

Jika sebuah temuan penting baru muncul pertama kali pada Discussion, struktur manuskrip perlu diperiksa.

Prinsip sederhananya:

No Discussion without Results.

Hal serupa berlaku untuk Conclusion:

No Conclusion without evidence.

Setiap klaim utama seharusnya dapat ditelusuri kembali pada bukti penelitian.

17. Berhati-hati dengan Klaim Kausal

Misalnya ditemukan:

“Peserta yang lebih sering menggunakan platform memiliki skor yang lebih tinggi.”

Temuan tersebut tidak otomatis berarti:

“Penggunaan platform menyebabkan peningkatan skor.”

Ada kemungkinan peserta dengan kemampuan lebih tinggi memang lebih aktif menggunakan platform atau terdapat variabel lain yang berhubungan dengan keduanya.

Karena itu, gunakan bahasa yang sesuai dengan desain penelitian.

Istilah seperti associated with, related to, atau showed a relationship with berbeda maknanya dengan caused, resulted in, atau led to.

Prinsipnya:

Kekuatan klaim harus mengikuti kekuatan bukti.

18. Hasil Tidak Signifikan Tetap Hasil

Hasil yang tidak signifikan tidak perlu disembunyikan jika berkaitan dengan RQ atau hipotesis penelitian.

Misalnya:

“Analisis tidak menunjukkan bukti yang cukup mengenai perbedaan pada indikator X.”

Hindari langsung menyimpulkan:

“Tidak ada perbedaan.”

Tidak ditemukannya signifikansi statistik tidak selalu membuktikan bahwa dua kondisi benar-benar identik.

Pertimbangkan estimasi, confidence interval, ukuran sampel, variabilitas, kekuatan analisis, dan desain penelitian.

Pembahasan mengenai kemungkinan penjelasannya kemudian dapat dikembangkan pada Discussion.

19. Jangan Menyembunyikan Variasi

Rata-rata membantu merangkum data, tetapi dapat menyembunyikan variasi.

Misalnya rata-rata meningkat, tetapi sebagian peserta meningkat tajam, sebagian hanya sedikit berubah, beberapa tidak berubah, dan beberapa mungkin mengalami penurunan.

Jika variasi tersebut relevan terhadap RQ, pertimbangkan untuk melaporkannya.

Hal yang sama berlaku dalam penelitian kualitatif.

Jika sebagian besar peserta menunjukkan satu pola tetapi terdapat kasus berbeda yang penting, jangan menghilangkannya hanya agar Results terlihat konsisten.

Kasus berbeda justru dapat memberikan pemahaman yang lebih kaya terhadap fenomena.

20. Pilih Struktur Results yang Sesuai

Tidak ada satu struktur yang cocok untuk seluruh penelitian.

Berdasarkan Research Question cocok ketika artikel mempunyai beberapa RQ yang jelas.

Berdasarkan Hipotesis dapat digunakan pada penelitian kuantitatif tertentu.

Berdasarkan Tema umum digunakan dalam penelitian kualitatif.

Berdasarkan Tahapan atau Waktu cocok untuk penelitian longitudinal atau penelitian yang menelusuri perkembangan.

Berdasarkan Kasus dapat digunakan dalam desain tertentu yang menempatkan kasus sebagai unit analisis.

Yang penting adalah memilih satu logika penyajian yang jelas dan menggunakannya secara konsisten.

21. Checklist Results Sebelum Submit

Sebelum menyelesaikan bagian Results, gunakan checklist berikut.

PertanyaanPeriksa
Apakah Results menjawab research questions?✓
Apakah setiap temuan utama mempunyai bukti?✓
Apakah analisis sesuai dengan Method?✓
Apakah statistik dilaporkan secara tepat?✓
Apakah tabel benar-benar diperlukan?✓
Apakah grafik menambah informasi?✓
Apakah teks menghindari pengulangan tabel?✓
Apakah kutipan kualitatif mendukung analisis?✓
Apakah variasi penting dalam data diperhatikan?✓
Apakah hasil tidak signifikan dilaporkan jika relevan?✓
Apakah bahasa kausal sesuai dengan desain?✓
Apakah interpretasi lebih luas ditempatkan di Discussion?✓
Apakah setiap tabel dan gambar dirujuk dalam teks?✓
Apakah Results konsisten dengan RQ dan Method?✓

Checklist tersebut bukan pengganti pedoman jurnal, tetapi dapat digunakan sebagai pemeriksaan awal.

22. Periksa Keselarasan Seluruh Manuskrip

Bagian Results tidak berdiri sendiri.

Artikel yang konsisten memiliki alur:

Research Question → Method → Results → Discussion → Conclusion

Jika RQ menanyakan pengalaman peserta tetapi Method tidak memiliki sumber data yang dapat menggali pengalaman tersebut, terdapat ketidaksesuaian.

Jika Results melaporkan analisis yang tidak dijelaskan dalam Method, pembaca dapat mempertanyakan proses analisisnya.

Jika Discussion membuat klaim yang tidak didukung Results, argumentasi menjadi lemah.

Karena itu, setelah menulis Results, lakukan pemeriksaan silang:

RQ ↔ Method ↔ Results ↔ Discussion ↔ Conclusion

Keselarasan tersebut sering lebih penting daripada sekadar menambah panjang manuskrip.

23. Research Tools sebagai Alat Pendukung

Beberapa Research Tools di khoirulfaizin.my.id dapat membantu proses analisis dan pemeriksaan awal sebelum Results ditulis.

Pretest–Posttest Analyzer dapat membantu analisis awal data sebelum dan sesudah intervensi apabila sesuai dengan desain penelitian.

Effect Size Calculator dapat membantu menghitung atau memahami besarnya efek berdasarkan ukuran yang sesuai.

Likert Scale Analyzer dapat membantu pengolahan awal data skala Likert sesuai kebutuhan analisis.

Qualitative Coding Tool dapat membantu mengorganisasikan data kualitatif menjadi kode dan kategori.

Setelah naskah selesai, Manuscript Readiness dapat digunakan sebagai pemeriksaan awal terhadap konsistensi manuskrip.

Namun, Research Tools tetap merupakan alat bantu, bukan penentu metode.

Jangan memilih analisis karena tool tersebut tersedia. Pilih analisis berdasarkan research question, desain penelitian, karakter data, dan asumsi statistik yang relevan.

Kesimpulan

Bagian Results yang kuat bukan bagian yang memiliki angka, tabel, grafik, atau kutipan paling banyak.

Results yang baik memungkinkan pembaca memahami dua hal:

Apa yang ditemukan?

dan

Bukti apa yang mendukung temuan tersebut?

Gunakan research question sebagai kompas. Pilih hanya data yang relevan, susun temuan secara sistematis, dan gunakan tabel atau grafik ketika benar-benar membantu pembaca.

Dalam penelitian kuantitatif, jangan berhenti pada p-value. Perhatikan statistik deskriptif, estimasi, ukuran efek, dan ketidakpastian apabila relevan.

Dalam penelitian kualitatif, jangan berhenti pada kumpulan kutipan. Tunjukkan tema, pola, variasi, proses, atau hubungan yang dihasilkan melalui analisis.

Dalam mixed methods, jangan sekadar menampilkan dua jenis data. Jelaskan hubungan keduanya sesuai dengan desain penelitian.

Dan yang terpenting, pertahankan perbedaan antara Results dan Discussion:

Results menunjukkan apa yang ditemukan.
Discussion menjelaskan apa arti temuan tersebut dan mengapa temuan itu penting.

Jika bagian Results mampu menjawab research question dengan bukti yang jelas, proporsional, dan dapat ditelusuri, maka data penelitian telah berubah menjadi temuan ilmiah yang dapat dipahami dan dievaluasi oleh pembaca.